Satreskrim Polresta Solo Benarkan Adanya Laporan soal Perusakan Fasilitas Kantor DPC Gerindra Solo

oleh

Uri.co.id, SOLO – Polresta Solo membenarkan ada laporan masuk terkait perusakan fasilitas di dalam kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Solo.

Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Fadli mewakili Kapolresta Solo, Kombes Pol Ribut Hari menerangkan, laporan masuk atas nama pelapor, Ketua DPC Partai Gerindra Solo, Ardianto Kuswinarno yang merupakan warga Cinderejo Kidul RT 03 RW 08 Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari. 

“Benar ada laporan (Kamis 30 Mei 2019 malam) dan kami tangani,” terang dia kepada Uri.co.id, Jumat (31/5/2019).

Lebih lanjut Fadli mengatakan, adapun terlapor yakni Sekjen Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR) Solo, Sapardi, warga Suropadan RT 01 RW 08, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan.

Dia menambahkan, pihaknya juga sudah meminta keterangan dari para saksi yang datang bersama Sekjen PPIR Solo, Sapardi.

Di antaranya, Wahyu Gunarso (46) warga Bibis Baru RT 003 RW 023 Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Ahmah Luthfi (26) warga Jalan Trisula VII No. 21 Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Teguh (40) Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon dan Dony Herwanto (28) warga Dawung Wetan RT 04 RW 8 Danukusuman, Kecamatan Serengan.

“Semua saksi sudah dipanggil,” tuturnya.

“Akibat perusakan, ditaksir kerugian mencapai Rp 300 ribu karena kaca meja pecah,” ungkap dia menegaskan.

Sebelumnya, perusakan fasilitas terjadi di dalam kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Solo.

Akibat perusakan itu, meja kaca kantor partai berlambang burung Garuda di Jalan Parang Liris Nomor 4B Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo itu pecah dan berantakan.

Dari informasi yang dihimpun Uri.co.id, perusakan fasilitas dilakukan oleh anggota Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPIR), terjadi Kamis (30/5/2019) pukul 22.00 WIB.

Ketua DPC Partai Gerindra Solo, Ardianto Kuswinarno yang juga menjadi pihak pelapor membenarkan kejadian menjelang tengah malam tersebut.

“Saya membawa ke jalur hukum dan sudah melaporkan ke Polresta Solo,” ungkapnya kepada Uri.co.id, Jumat (31/5/2019).

Adapun kronologinya menurut dia, ada lima orang datang yakni satu di antaranya Sekjen PPIR Solo, Sapardi (55) yang menemuinya di kantor DPC Partai Gerindra pukul 21.30 WIB.

“Supardi menanyakan kekurangan pembayaran dana saksi Pemilu 2019, tapi saya tanyakan mana hasil pengumpulan C1 asli, tidak ada barangnya,” ungkapnya.

“Padahal kami (DPC) sudah memberikan uang muka Rp 209 juta,” kata dia menegaskan.

Anggota DPRD Solo itu menjelaskan, sesuai perjanjian memang total jumlah dana saksi Pemilu 2019 sebesar Rp 418 juta, yakni dengan estimasi untuk Rp 100 ribu per orang.

“Kata dia (Sapardi) para saksi telah mengumpulkan C1 sebanyak sekitar 660 C1, tapi kenyataan tidak ada barangnya, ini saya tekankan lagi ya,” jelasnya.

Namun dalam diskusi pembahasan itu lanjut Ardianto, pihaknya meminta untuk diserahkan ke DPD Partai Gerindra Jateng, tetapi ditolak.

“Saat itu terlapor (Sapardi) langsung membalikkan meja kaca, sehingga kaca pecah dan berantakan,” ungkapnya.

“Saya diam saja, tidak bereaksi,” tuturnya membeberkan. (*)  ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!